Nggowes Bersama 82 yoo....

SEPEDAHAN ALIAS PIT2-AN DESA DEMI DESA

SEPEDAHAN  ALIAS  PIT2-AN  DESA DEMI DESA

Keliling dengan mengayuh sepeda ( Pit-pit-an ) merupakan kegiatan baru saya pada awal bulan Februari 2010 di Kota Tegal, meskipun sebelumnya pernah saya lakukan pada waktu masih duduk di sekolah SMP sampai SMA di Kota Ngawi. Saat itu, bersepeda ( ngonthel sepeda ) dilakukan untuk keperluan sekolah / ngilmu karena sarana transportasi kendaraan bermesin sangatlah kurang. (di kampung saya hanya beberapa orang yang mempunyai bron pit / sepeda motor).

Sepedahan semasa sekolah SMP dan SMA (Sepeda sarana transportasi kangggo golek ilmu)

Ketika tamat sekolah (lulus dari SMA), Yogyakartalah yang menjadi pilihan saya untuk melanjutkan sekolah (kuliah) ..........mengapa.? karena disana ada kakak yang sedang Golek Ilmu (kuliah). Lha di yogya (kota pelajar) inilah saya sangat - sangat terkesaan pada komunitasnya dimana saja tempatnya, disitu pelajar dan mahasiswa adanya. (boleh dikata orang tua/bekerja tidak kelihatan). Saat itu.. yang namanya jalan lalu - lintas tidak seramai sekarang penuh dengan kendaraan bermesin bahkan macet yang kita temui, dan sudah banyak mengandung gas buang dari asap knalpot dan cerobong asap pabrik - pabrik industri. ( Polusi akibat gas buang yang mengandung CO2). tidak sebersih saat itu.

Ngayogyakarta hadiningrat, kota pelajar dan seni budaya paling mengesankan ketika saya melihat pejalan kaki, pengonthel sepeda dengan membawa tas dipundhaknya. Di kota Yogya yang kaya dengan adat budayanya, ketika ada pertunjukan wayang kulit di Siti Hinggil Kraton, saya berdua dengan Winduna (rekan sekampus) berponcengan dan bergantian mengayuh (ngonthel) sepeda dari Kampus Bulak Sumur menuju Kraton via

Malioboro dengan tujuan nonton pertunjukan wayang kulit. Di sini mengesankan sekali ketika selesai nonton udah pada ngantuk ngonthel lagi. Ditengah perjalanan tepatnya jalan Bayangkara ada “Angkringan” yaitu warung kaki lima di pinggir jalan yang berjualan nasi kucing, gorengan, dengan minuman penghangat badan wedang jahe, rondhe, kopi dan lain-lain. Di angkringan ini berdua mampir (ngopi dulu ah...biar nggak ngantuk).

Di Angkringan saya berdua ngopi dan makan gorengan. (Tamba ngantuk)

Ok, itu semua sekedar intro untuk mengawali komunitas baru saya

sekarang....mengapa? yang jelas ingin kembali ke alam “Back to Nature”. Sepedahan (Pit2-an) saya manfaatkan sebagai kegiatan pada saat libur bekerja tentunya hari Sabtu atau Minggu. Sepeda yang saya gunanakan adalah “Poligon type Shierra dan Poligon type Unitoga” kedua sepeda tersebut sepedanya putra-putri saya. Karena putri saya semenjak duduk di sekolah SMA sudah tidak mau lagi dengan bersepeda onthel, sepedanya saya serviskan yang akhirnya tak manfaatkan pada hari libur sabtu atau minggu pagi berkeliling lewat jalan desa - desa. Ternyata ada kenikmatan tersendiri kegiatan bersepeda (Pit2-an) kita bisa melihat hamparan sawah yang menguning atau kegiatan bapak tani ibu tani yang sedang mengolah sawahnya serasa damai, udarapun terasa segar meskipun keringat mengucur deras membasahi badan. (Berawal dari sinilah memori dalam otak kepala mengingatkan semasa kecil saya dengan bersepeda menempuh ilmu). Sudah delapan kali bersepeda desa demi desa dengan route yang berbeda, route sepedahan (Pit2-an) jarak tempuh paling panjang adalah sepedahan yang ke tujuh hari Minggu tanggal 11 April 2010 dengan route: start rumah, terus menuju jalan Pala

Raya - ke selatan, belok kiri jalan menuju Pasar Kemantran, sampai pasar Kemantran ke arah selatan menuju Pasar Balamoa, ke barat menuju Pasar Banjaran, ke utara menuju Rumah Sakit Kardinah, belok kiri kearah Perumahan Mejasem Barat dan finish Rumah. Route ditempuh kurang lebih 25 km.

Maz-Tanto82...tunggu ivent berikutnya di http://maztanto82bloko21mjs.blogspot.com

Bersepeda di Bandung

Pesepeda Bandung Terhambat Jalan Sempit

bersepeda bandung

bersepeda bandung
bicycle

Sepeda Bandung

Sabtu, 17/4/2010 | 12:55 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com - Ahli transportasi lingkungan ITB Ofyar Z Tamin mengatakan, saat ini para pesepeda di Kota Bandung masih terhambat kondisi jalan yang ada di kota itu yang kebanyakan sempit. "Ruas jalan sempit, jaraknya relatif pendek, jumlah penggunanya sangat tinggi, terutama kendaraan bermotor. Makanya selalu macet. Itulah gambaran mayoritas kondisi jalan di Kota Bandung," katanya Ofyar Z Tamin, saat diskusi mengenai kondisi jalur bersepeda, di Bandung, Sabtu. Menurut Ofyar jaringan jalan Kota Bandung hanya 3-4 persen dari luas kota itu, jauh dari ideal untuk sebuah kota yang seharunya mencapai 10-30 persen.

Dia mengatakan, jaringan jalan di Kota Bandung menjadi semakin kecil karena digunakan sebagai lahan parkir dan tempat pedagang kaki lima. "Tidak mungkin pemerintah melebarkan jalan. Selain tidak ada lahan lagi, dananya pun tidak ada. Jalan yang bolong saja banyak yang belum ditambal," kata Ofyar. Selain terhambat kondisi jalan, menurut dia, kegiatan bersepeda di Kota Bandung juga terhambat oleh persepsi negatif masyarakat tentang transportasi sepeda. "Masyarakat menganggap bersepeda itu mahal, karena harus membeli sepeda dulu seharga Rp2 juta hingga Rp5 juta. Selain itu bersepeda tidak aman, tingkat kecelakaan di jalan raya kan tinggi. Dan yang paling krusial adalah lajur khusus sepeda belum ada," kata Ofyar.

Menurut dia, saat ini yang perlu dilakukan pemerintah dan para pesepeda adalah merangsang pengguna kendaraan bermotor, khususnya kendaraan pribadi, untuk mau pindah menjadi pengguna sepeda. Solusi nyata yang bisa dilakukan Pemkot Bandung, kata dia, adalah dengan mengurangi lahan parkir di ruas jalan dan menaikkan tarif parkir kendaraan pribadi.

"Pemerintah juga sebaiknya segera merealisasikan pembangunan jalur khusus sepeda di jalan -jalan yang sering dilalui pesepeda di Kota Bandung. Pemerintah juga bisa mengolaborasikan kebijakan penggunaan angkutan umum dan sepeda," katanya.

(Sumber: Antara)

KSP

Bersepeda-Bersepeda-Bersepeda- Bersepeda-Bersepeda- Bersepe

bicycle

Realisasikan Jalur Khusus Sepeda di Surabaya

sepeda di surabaya

sepeda di surabaya
dengan sepeda udara jadi nyaman

lanjutan sepeda Surabaya

Ilustrasi bersepeda

Selasa, 6/4/2010 | 19:40 WIB

SURABAYA, KOMPAS.com - Semakin gencarnya penggunaan sepeda sebagai moda transportasi sehari-hari harus didukung infrastruktur yang memadai. Untuk itu, komunitas pesepeda berharap pembuatan jalur sepeda bisa direalisasikan di Kota Surabaya.

"Untuk kota-kota metropolis seperti Surabaya, rasanya keberadaan jalur sepeda makin penting. Apalagi kondisi jalan raya makin penuh dengan mobil dan sepeda motor," kata Sekretaris Komunitas Sepeda Tua Indonesia (Kosti) Jawa Timur Irmanov, Senin (5/4) di Surabaya. Irmanov mencontohkan Yogyakarta yang sudah memiliki jalur khusus sepeda. Di jalanan Kota Gudeg itu jalur sepeda sudah dibuat di kawasan kampus hingga pusat kota. Untuk mempermudah penunggang sepeda, disediakan juga rambu-rambu penunjuk jalan yang mempermudah pesepeda mencari jalan yang lebih nyaman dan sepi. Demi mendorong pembuatan jalur sepeda, kata Irmanov, komunitas sepeda dan backpacker se-Indonesia akan menggelar kongres di Jakarta pada Juli 2010. "Salah satu agenda yang akan kami munculkan yaitu mengupayakan jalur sepeda. Untuk permulaan misalnya di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Makassar," ujar Irmanov. Selama ini para pesepeda memang harus berbagi jalan dengan sepeda motor dan mobil yang bertumpuk di jalanan. Bisa dikata, pengayuh sepeda menjadi warga kelas tiga dibanding para pengendara mesin bermotor. Kondisi ini juga yang diprihatinkan oleh pelatih klub balap sepeda Araya Sidoarjo, Munaji.

"Para pebalap kami harus mengambil risiko tinggi dengan berlatih di jalan raya, akhirnya kami lebih sering latihan di luar kota," kata Munaji. Untuk berlatih, para pebalap Araya biasanya menjajal lintasan di Jalan Raya Juanda. Kawasan ini terbilang sepi karena hanya dilalui oleh pengendara yang akan menuju ke Bandar Udara Juanda. "Truk-truk besar yang lewat pun jarang, anak-anak bisa fokus latihan," tuturnya.

Animo besar

Saat ini keberadaan jalur sepeda menjadi mutlak. Inisiatif Kompas untuk menggelar Green Fun Bike yang berlangsung di empat kota, Minggu (11/4), menunjukkan animo masyarakat untuk menggunakan sepeda semakin besar. Untuk itulah, infrastruktur pendukung sangat dibutuhkan. Adapun Green Fun Bike akan digelar di Bangkalan, Surabaya, Gresik, dan Mojokerto. Peserta akan berangkat bersamaan dari keempat kota tersebut untuk finis di lapangan Kodam V/Brawijaya Surabaya.

(Maria Serenade Sinurat/KOMPAS Cetak Lembar Daerah Jawa Timur)

Pawai sepeda

Pawai Sepeda Onthel Ramaikan HUT RI

KOMPAS/HERU SRI KUMORO

Pawai sepeda

Pawai sepeda
Cliub Penggemar Sepeda Onthel

Pawai Sepeda

Senin, 17/8/2009 | 19:32 WIB

PAMEKASAN, KOMPAS.com - Ratusan sepeda "onthel" yakni sepeda angin jaman dulu, Senin (17/8), menggelar pawai keliling kota, memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-64 Kemerdekaan Republik Indonesia di Pamekasan, Madura, Jawa Timur.

Pawai sepeda "onthel" ini berangkat dari monumen Arek Lancor yang merupakan jantung kota Pamekasan. Rute yang dilalui adalah Jalan Trunojoyo, Jalan R.Abdul Azis, Segara, Kabupaten, Jalan Dirgahayu dan kemudian kembali ke monumen Arek Lancor.

Manurut Didik, salah seorang penggemar sepeda "onthel" kegiatan pawai bersepeda ini dilakukan untuk mengenang jasa para pahlawan bangsa.

"Dulu para pejuang kita saat memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini kebanyakan menggunakan sepeda onthel seperti yang kami pakai sekarang ini," katanya.

Didik mengatakan, dengan kegiatan tersebut ia bersama para penggemar sepeda "onthel" di Pamekasan ingin mengajak masyarakat untuk kembali mengenang jasa para pahlawan yang dilakukan pada 64 tahun yang lalu.

Pawai sepeda "onthel" yang dilakukan para penggemar sepeda yang tergabung dalam paguyuban "Lastarenah Sapeda Kona (Lasena)" ini merupakan salah satu bentuk kegiatan yang dilakukan warga di Pamekasan, selain berbagai jenis kegiatan lomba unik antar RT.

Tujuan lainnya untuk melestarikan keberadaan sepeda kuno yang mulai terkikis dengan jenis transporatsi mesin lainnya seperti motor dan mobil.

"Disamping itu sepeda ondel seperti ini juga kan ramah lingkungan tidak menimbulkan polusi udara," katanya.

Red Bull-mountain 7 Psychosis(downhill)

Ini Dia, Sepeda Khusus Perempuan

Ini Dia, Sepeda Khusus Perempuan
Polygon merilis sepeda seri Celine yang dirancang secara geometris dan argonomis khusus pesepeda perempuan. Ceruk pasar yang besar membuat Polygon serius menggarap ceruk pasar ini.

Info Sepeda

Sabtu, 25/9/2010 | 23:27 WIB

Ini Dia, Sepeda Khusus Perempuan

Laporan wartawan KOMPAS.com Eko Hendrawan Sofyan

BALI, KOMPAS.com -- Kegiatan "nggowes" kini tengah digandrungi. Bahkan, di sebagian kalangan masyarakat metropolitan telah menjadi bagian dari gaya hidup.

Peminatnya pun, tentu tak lagi didominasi kalangan pria. Kini, kalangan perempuan sudah mulai banyak yang melirik dan tak mau kalah menikmati asyiknya kegiatan yang satu ini.

Berbagai alasan menjadi trigger (pemicu) yang menyertainya. Mulai dari sekedar ajang gaul, hobi atau bahkan ikut menyuarakan tugas mulia, yakni mengkampanyekan hidup sehat dan bersih memerangi pemanasan global (global warming).

Nah, bagi kaum perempuan yang kini mulai keranjingan "nggowes", ada baiknya mulai memilah-milah sepeda yang memang cocok untuk digunakannya. Kini, tak perlu tak perlu lagi puyeng memilih sepeda yang memang benar-benar cocok untuk karakter perempuan.

Memasuki tahun 2011, produsen sepeda Polygon menjebati kebutuhan para perempuan penggadrung nggowes dengan mengeluarkan seri sepeda khusus perempuan yang diberi nama Celine. Tersedia tiga pilihan, yakni Celine 1.0, Celine 1.0 dan Celine 3.0. Perbedaan masing-masing seri lebih pada spesifikasi komponennya.

Sebagai sepeda perempuan, Celine tentu dihadirkan mewakili karakteristik perempuan itu sendiri. Frame dirancang geometris dan ergonomis bagi pesepeda wanita. Secara penampilan, Celine tampak begitu anggun.

"Komponennya disesuaikan dengan anatomi perempuan dari mulai sadel, handle (pegangan) hingga seat (jok). Artinya sangat friendly dengan perempuan," ujar Harry Rusli, General Manager (GM) Produksi PT Inserna Sena di acara peluncuran 20 varian baru sepeda Polygon di Outlet Rodalink, di Denpasar, Bali, Sabtu (25/9/2010).

Penampilan anggun Celine didukung pula dengan pengembangan teknologi baru, berupa pengaplikasian komponen Alivio 9 speed groupset. Hal ini tentu saja akan lebih meringankan para perempuan saat mengayuh sepeda.

Nah, untuk soal warna, Polygon menawarkan tiga pilihan warna untuk masing-masing seri, yakni ungu, biru muda dan putih.

Serius Bidik Pasar Perempuan

Di tahun 2011 nanti, Polygon mulai melirik serius pangsa pasar di kalangan perempuan. Ceruk bisnis ini tergolong memggiurkan, mengingat banyak perempuan yang kini juga getol nggowes. Permintaan kebutuhan sepeda wanita cenderung meningkat.

Promotion Manager PT Insera Sena, Peter Mulyadi mengatakan tingginya minat perempuan menggunakan sepeda cukup tinggi. "Kita pernah mengeluarkan seri Extrada untuk kalangan perempuan dan ternyata laris. Makanya, kita mulai serius mengincar pasar perempuan. Peluangnya masih besar," katanya.

"Dari total produksi sepeda selama ini, yakni 600 ribu unit per tahun, baru lima persennya yang dibuat khusus untuk perempuan. Ke depan tentunya akan meningkat karena peluangnya sangat besar. Makanya, kita akan lebih serius untuk pasar perempuan," ujarnya.

Editor: Asep Candra

Sumber : http://female.kompas.com/read/xml/2010/09/25/23275239/Ini.Dia..Sepeda.Khusus.Perempuan-8

Tidak ada entri.
Tidak ada entri.